Archive for » November, 2010 «

Pohon

ku lihat engkau di areaku

yang berada di sekitar tempatku

ku lihat dirimu buatku tegar

karena kau sumber dari udara segar

di negriku kau sangat melimpah

dari padang sampai hutan

ku lirik kamu yang bersumpah

untuk mencapai negriku yang mapan

udara segar berkat warnamu

udara kotor karena kamu pudar

tak ingin kau hilang dari ku

karena kau, aku menjadi segar

lirik sana lirik sini

hembus sini hembus sana

kau ikuti kata hati

terserah kau ini dunia

kau berarti bagi kami

yang sangat bagus di sekitarku

ku ingin menjagamu sampai lestari

sekuat raga dan hatiku

forever is green

you best friend

forever life world

Bulan

Kau datang dan hilang

dari pandangan segelap malam

Lihat dirimu membuat mataku berlinang

kau adalah nafas kehidupan malam

Membawa segores kecerahan

dalam secercah sinar di inti dirimu

Temaniku lepaskan kejenuhan seharian

Bidadari gelap yang hanya ada satu

Kau adalah benda mulia

Segenap kehidupan ada di dirimu

yang merupakan keajaiban dunia

takkan pernah hilang di bumiku

temaniku dalam kegelapan

Menyinariku yang terbuai mimpi

Kau adalah benda peradaban

yang kan s’lalu bersinar sehabis matahari

Bulan oh bulan

sinarmu akan terang sehabis senja

di malam kau adalah kawan

di siang kau satelit alami dunia

” Sahabat ”

Di bangku sekolah awal persahabatan kita

Kau tersenyum ramah mengajakku bercanda

Senggol kanan dan kiri kau buatku ria

Tolong menolong tujuan kita

Ku lihat dalam dirimu

Ada yang tidak ada dalam diriku

Partner sejati di kehidupanku

yang tidak ingin kehilanganmu

Sejak awal ku berjumpa

Ku terpana melihat pancaran mata

Ku terpaku melihat nada bicaranya

Yang sangat pelan dan terirama

Tetapi, kini kau hanya tinggal kenangan

Kau pergi tinggalkan ku sendirian

Semua canda dan kenangan

Takkan pernah ku hilangkan

Selamat tinggal teman

semua canda dan tawamu kan kusimpan

kan ku ingat lolonganmu kawan

Forever, You best friend

Diriku

menuju kedewasaan pada diriku

terdiam duduk membisu

bertanya siapa kepada diriku

arwah siapa dalam tubuhku

Ku melirik ke masa bayi

bertanya dalam diri ini

siapakah diriku ini

mengapa aku ada di sini

begitu bodoh diriku ini

tidak bisa mengendalikan diri

yang hanya mau di ikuti diri sendiri

hati ikut membisikkan diri ini

marah ? Pasti

kesal ? Ya

jenuh ? Pasti

jengkel ? Ya

apa yang terjadi dalam tubuh ini

kesal sendiri marah sendiri bingung sendiri

bodohnya tubuh dan pikiranku ini

yang hanya bisa ngebual dalam diri

Cinta Masuk Jurang

Ini tentang cinta seorang cucu terhadap kakeknya yang belum pernah dia lihat seumur hidupnya yang cuma hanya bisa di bayangkan saja lewat album foto keluarga.

“. Kakek pergi dulu ya cu ?”kakek berbicara terpatah-patah dengan nada yang tidak ku suka

.” mau pergi ke mana sih kakek ini.”Aku berharap jawaban yang ingin aku suka dari kakek

.”kakek mau pergi ke tempat seseorang yang kakek ingin jumpai,” lirih kakek

.”tapi….tapi nanti bagaimana dengan aku kakek,”Aku yang tidak ingin kakek pergi meninggalkan diriku sendiri memelas.

.” masa aku di tinggalkan sendiri.” sambung aku

Ibu yang dari tadi sedang memasak terpaksa ikut bergabung menenangkan aku yang tidak ingin kakekku pergi meninggalkanku sendiri dalam kesunyian yang tidak ingin aku alami

.” sudahlah nak kakek ingin pergi sebentar kok gak akan selamanya,” Ibu mencoba menenangkan diriku

“ bagaimana dengan aku ini bu, aku tidak ingin kakek pergi bu.”

“ kakek hanya pergi sebentar kok”

“ ia kakek hanya pergi sebentar kok cu” sambung kakek dengan senyum yang melekat dari bibirnya yang bisa kapan saja hilang dari pandanganku

“ mang mau ngapain sih kakek di sana…

‘ kakek hanya ada keperluan saja paling cuma 6 hari aja selesai kok, sabtu nanti juga sudah pulang ke rumah, gak lama kan cu ?” kakek menjelaskan

Tetapi bagiku 6 hari adalah waktu yang cukup lama bagiku. Karena 1 hari aja aku tanpa kakek hidupku akan terasa hampa bagaikan kapas yang dapat mudah di terbangkan oleh hempasan angin yang sepoi-sepoi jalannya. Aku tetap saja tidak ingin kehilangan kakek apalagi jika harus 6 hari tanpa kakek hidupku akan terasa begitu tidak terasa.

Aku yang tidak ingin kakek pergi mencoba untuk menyakinkan kakek supaya tidak pergi tinggalkan aku sendiri. Ayah yang dari tadi tenang pun mencoba menyakinkan aku yang hanya terdiam terpaku-paku melihat ayah yang sedang berbicara dengan kakek dan ibu yang aku tahu mungkin yang sedang di bicarakan adalah bagaimana dengan diriku ini. Setelah menunggu akhirnya aku di beri penjelasan bahwa :

“jadinya bagaimana ini kakek” aku memulai pembicaraan

“kakek akan tetap pergi !”

“kakek masih akan tetap pergi, bagaimana sih ini kakek

apa kakek gak sayang sama aku ini,”

“ tenang dulu dong nak” ibu dan ayah serempak

“ kakek akan tetap pergi tapi ada syaratnya yang harus di setujui oleh kamu nak.”

“ apa itu bu.”

kali ini ayah yang akan menjelaskan yang di bicarakan tadi dan kesimpulan yang di buat bersama

kakek, ayah dan ibu

“ kakek boleh pergi untuk sekarang tapi kakek tidak akan pergi lagi setelah ini, bagaimana nak?” Setelah ayah menjelaskan aku berpikir sebentar untuk membuat jawaban yang tepat bagi diriku dan untuk orang lain yang sedang menunggu jawaban dari aku. Akhirnya aku membuat jawaban

“ baiklah kakek boleh pergi sekarang tapi selanjutnya tidak lagi ya, janji?” jawaban dari aku

“ Janji sehidup semati dari aku cu” hanya itu jawaban kakek untukku

setelah begitu Ibu, Ayah dan aku mengantar kakek ke terminal untuk memulai perjalanan kakek yang tidak aku duga hari itu adalah hari terakhir aku melihat kakek untuk selamanya.

Bersambung

** ** **